Kamis, 22 April 2010

Tradisi yang ditinggalkan......


Proses bisnis / sosial yang terjadi sekarang ini sangat berbeda dengat zaman dahulu. Semua ini terjadi karena kemajuan teknologi dibidang informasi yang berdampak pada lunturnya etika tradisional kita.

Salah satu contohnya adalah seseorang yang berjualan barang lewat dunia maya. Disini si pejual tinggal membuat web dan melampirkan daftar barang beserta harganya. Karena menggunakan internet sebagai media pemasarannya maka pembeli bisa berasal dari mana saja. Jika pembeli cocok dengan barangnya maka pembeli tinggal meng-klik “beli” dan mentransfer uang ke rekening pembeli maka dalam beberapa hari barang telah sampai pada si pembeli.

Pada sistem jual beli seperti ini penjual dan pembeli tidak perlu bertemu secara langsung. Hal tersebut berdampak pada lunturnya etika tradisional dalam jual beli. Etika tradisional yang hilang diantaranya adalah:

1. Tatap muka / pertemuan fisik

2. Kegiatan tawar – menawar barang

3. Silaturahmi

Tatap muka / pertemuan fisik yang terjadi pada transaksi Tradisional tidak hanya terjadi antara pembeli dan penjual yang terlibat transaksi saja, melainkan juga dengan pembeli – pembeli dan penjual – penjual lain (bila transaksinya di Pasar Tradisional). Pertemuan fisik tersebut, ditambah dengan proses tawar menawar yang sering diiringi dengan candaan memberikan dampak emosional yang positif antara Penjual dan Pembeli sehingga rasa kekeluargaan terbentuk diantara mereka. Untuk selanjutnya, transaksi tidak sekedar transaksi, melainkan juga ajang silaturahmi antara penjual dan Pembeli. Sedangkan pada transaksi secara online tidak ada tradisi tawar menawar sehingga akan berdampak berkurangnya silaturahmi antar satu orang dengan orang lain. Hal ini kalau dibiarkan terus menerus akan berakibat sifat individualism akan terus berkembang pada perilaku seseorang.


Contoh selanjutnya adalah adanya jasa laundry yang membuat sebagian orang menjadi malas.

Fenomena terbaru dalam kehidupan diperkotaan adalah munculnya jasa laundry pakaian. Misalkan saja di kota surabaya, banyak jasa – jasa laundry yang bermunculan di pinggir jalan. Di dekat rumah saya saja terdapat 10 jasa laundry sesepanjang jalan. Hal ini membuktikan bahwa jasa laundry sangat di gemari masyarakat. Tanpa orang sadari ternyata hal tersebut berdampak pada kebiasaan seseorang untuk bermalas-malasan. Karena orang yang malas pada umumnya beranggapan buat apa mengeluarkan tenaga yang sia2, lebih baik manfaaatkan fasilitas yang ada. Hal secara tidak langsung berdampak pada mulai berkurangnya etika atau kebiasaan kita yang tadinya mau mencuci sendiri menjadi malas mencuci sendiri. Dengan adanya teknologi baru dalam hal ini yaitu mesin cuci, menimbulkan dapak positif maupun negative.

Dampak positif

1. Membantu seseorang yang mempunyai kesibukan yang tinggi

2. Membuat lapangan pekerjaan baru

3. Membantu ibu rumah tangga yang punya bekerjaan banyak

Dampak negative

1. Membuat orang menjadi bermalas-malasan

2. Berkurangnya etika atau kebiasaan orang pada umunya (yang tadinya giat mencuci sendiri menjadi bermalas-malasan)

3. Membiasakan orang hidup boros.

Dari 2 contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan semakin berkembangnya dunia teknologi dapat berakibat positif dan negative bagi seseorang tetapi hal tersebut terganung dari orang tersebut. Apabila orang tersebut dapat memanfaatkan dengan baik akan membawa keuntungan bagi orang tersebut, tapi apabila tidak dapat mengaturnya dengan baik akan berakibat fatal bagi orang tersebut dan berakibat melunturkan nilai etika tradisional pada dirinya sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar